Tajuk Sang Pendayu

DEKAT JAUH TAK BERARAH Part I
Binar kata diantara keterungkapan menyentu mengintari deminsi hidup tak berbisa senyum kegurauan adalah nuansa mengisaratkan alur gelombang berkidung pencapaian hakikat coba pandang bening itu coba pahami dengan hasrat pikir absolut bukan, cahaya itu mulai melangkah berbisik tiada deruan kosong samar terputus dalam pengharapan. Dialog kecil terus berdering melibatkan selimut tebal yang tergulung dalam sebuah ikatan, lihat kicauan itu dengar nafas yang terputus bingung hati menutur hilayak kidung terontah-rontah.

Cahaya bukan cahaya yang menghampirin dalam langkah seribu berbisik wahai bening tunjukkan semua ungkapan yang berselimut tebal itu mungkin bayangan mu menyelinap dalam rongga-rongga hati mu coba perlihatkan apakah bingkisan tanya dalam keterbisikan alunan kayu pendayung mengintari samudra bercahaya sejenak redup seketika, mimpi tapi terbuka pikir melayang derai tirai pujian menhisap batin binar nya menghilang tak tentu arah.

Gelombang pendayung yang mengintari afsun berkedok buih diatas lautan tertapak koyak tanpa jejak bingun coba berhenti sejenak cahaya meruntuhkan itu membumbung keudara diantara prisai tanya meluapkan segenap tanya. Sadar bukan penjabaran dalam lempingan berkeping pendayung mulai terusik hati dingin sayup rapuh hingga jatuh tak berdaya.

Luntahan mendenging berwujud pembuayan bertanya tuk hentikan hempasan gelombang menyeret merepah sekuat dorongan teriris batu berlapis logam yang menyerupai gambaran singa yang mengaung kencang bertubi tubi, jagat mengintai dering yg meredam namun pandangan berbinar binar hujan pun turun dalam sendu penyesalan wahai sang penyabar redupkanlah api yang menyala tenangkanlah hingga sepi pun datang.

Kasih merepah kembali menghangatkan luntahan yang sudah usang dering tak berkata tak sehelai bisik terluap sejuk terasa bening tak berkabut cerah diantara sinar cahaya berseri tautan langkah mengait kenjang dalam dekap erat sang pangeran tak lg menyepi, Nuansa buih tiada di kenang tersusun rapi diantara pemakaman diantara bendungan kembali surut.

Untaian manis memanjakan sahaja seiring langkah waktu yang mengintari jagat hingga terlupa, mendayuh seisi hati terukir setiap goresan melambaikan sebuah perjalanan hingga terpisah.

Tembok panjang mencari jabaran dua kota kini terpisah menunggu dalam ketabahan coba mengingat hujan merintih sendu dekat jauh tak berarah asa pikir coba menanti bagai kelembutan angin tiada bertepi.

Liku dalam ikhtisar senantiasa berulang terletak hinggap terlilit kerinduan dekat jauh tak berarah singgasana roboh dalam getir belum mengungkap pendayung sombong tiada arti tiada keputusan harus diilhami hingga kepingan itu tertutup rapat menyusun melepas kerinduan waktu yang memisah hingga kelembapan penyejuk kembali mengarah dalam sebuah susunan tak terputus lagi.

KONGRES PERADAPAN Part II
Zaman berangsur melangkah dalam hentakan pasti dalam detik-detik pengharapan tautan kembali dalam penyusunan benang benang sutra terurai dalam kelembutan bening-bening embun berkaca-kaca hirupan sejuk permata hati, jaket tersangkut tergantung sudah kongres peradapan melahirkan buaian sejuk rindang menghijau tunas baru ceria dalam catatan waktu, menyapa dering-dering surga dalam sebuah peradapan yang dinanti muncul dengan berseri tersipu dalam keluguan yang kosong tampa isi yang tersimpul.

Perjalanan mengukir fajar warna warni sebuah pilihan satu keyakinan dalam keputusan tuk memperoleh sebuah kecerahan, kemungilan yang lugu akan dunia menghasratkan sang pendidik memberi nuansa sejuk pikir dalam tuntunan pembelajaran sebuah hakekat dalam amal pengamalan yang baik tiada sombong tiada bangga akan rempah-rempah yang memiliki bibit yang terus berkembang.

Cakrawala kongres duniawi bermunculan mengintari pendayu yang baru merasakan kelembutan gelombang berayun lambat hingga lupa senyum tertidur sambil menikmati alam diwana bercerita tentang keindahan bukan tentang pertikayan yang tergelincir kaku dalam dingin salju membumbung menjadi mengkristal diantara bebatuan.

Kecil dalam pelipih hati yang berpikir wahai pendayu tua yang telah rapuh sosok mu menjadi sorotan sejarah yang telah lalu, pucuk tajam bersimbah tanya beribu penghayatan dalam arus-arus yang memainkannya hingga penasaran datang bertubi-tubi di benak yang binggung tapi penuh keyakinan nyata diantara dasar-dasar terukir menggores tinta tak bercoreng.

Kilauan demi kilauan memutar seiring jarum jam mendetak kencang tak tik tuk terkejut dalam bising yang terdengar keras, soratan pandang mengarah jerit searah dengan kepekatan pendengaran langkah menatih lembut mengikuti pikir dan hati bergetar serentak jantung tak berdaya itu melihat sebuah kongres peradapan yang tak pantas diperbuat, cepat menyambar tindakan itu berlari menyelamatkan suara yang menjerit kencang itu gegap lantang melawan petir-petir menyambar diantara gelombang pasang terberai marah atas perbuatan yang tak pantas menurut sang srigala mengaung dengan ganasnya.

Usang sudah perlawanan itu srigala berlari ketakutan pendayu itu pun segera menggakat kegembiraan atas metode yang ia lakukan, senang diantara keterpurukan sang srigala itu, esok pun tiba gerombolan menuntut balas atas penganiyayaan perlawanan pun datang bertubi-tubi selaras dengan hempasan taring tajam berlembah hasrat kesombongan, sujud sekejap tiada pengampunan simbah merah merona menghujat desiran prolog mengintai sirna.

Aneh jagat melontar busung kedepan sepi menepi dalam ratapan namun cahaya redup sekejap seluruh pintu tertutup rapat, tolong simbahkan dengan lantang apakah batu itu tak bisa pecah lebur menjadi debu dalam bening maupun kristal yang tiada retak timbulkan satu peradapan yang memiliki kongres didik menuturkan kelembutan agar mencoba hingga tak berulang.

Hening dalam pikir merapalkan setiap susunan hingga pintu-pintu itu terbuka dan tertutup lagi saat jam itu mati tiada detak, langkah pun terukir atas tingkah si lesu tak berongga kosong tiada isi, damai belum juga datang dalam kidung diantara afsun-afsun yang menebar keluluhan dalam tanya dan setiap dering tak berbunyi sedikit bisik tak menoleh.

Uraian Sang Kelana Part III
Malaikat surga menjemput naungan hati yang terpuruk menjelma menjadi sebuah renungan kecil yang mendalam memberikan unsur titian dengan hiasan bunga wanginya harum sejenak melupakan segenap pahit menyerupai hitam pekat tak berhulu.

Penjaga dengan pedang menancap dalam sarung terlihat ganas menebaskan kalut getir berbayang semu beralaskan hening pikir mengulur-ulur tragedi penyisian teka teki yang belum usang, pelipur mimpi membawa dalam penghayatan melintas benak tak menduga tak terduga.

Kala kelembutan sutra tak seperti pelepah berkerut kusam hingar nya tiada seraut paparkan duka iringan demi iringan mendialogkan harum sekejap hilang seketika, perut membusung terdengar suara bergemuruh mendimensikan seribu kisah seribu sejarah yang terurai kuat dalam lantunan menyapa sepi dalam hiruk pikuk menjadi penenang.

Gerigi jenuh tanpa arah tak berputar hingga pecah menjadi dua, rongga-rongga mencorong lepas keudara kabut sang pendayu memaparkat nasehat mengilhami langkah tertapak diantara bukit bukit yang leluasa menonjolkan kebesarannya, sebuah tatanan terlihat pedas kilaunya menyemangatkan hati dan pikir tuk isyaratkan tepian tanpa tepi.

Mineral kecil menheningkan percikan menyerupai tangis melambangkan kuasa tak berbatas coba kau lihat pandang searah tanpa menoleh dalam keterpakuan musnakan tiada lagi hambatan yang menyerukan ketakuatan hati dengan luapan cakrawala berbasis pedoman sebuah tuntutan.

Perangi mimpi mu dengan semangat langkah gagah menderukan isian hati yang pernah kau ukir namun telah tergores kebencian tentang kebohongan tarikat mata terpejam dalam nuansa pilu dalam hati yang membumbung keleluasaan pikir dalam kebahagian.

Urungkan sikap pendayu itu jejak kelana berserulingkan nada-nada kidung perdamaian yang harus usai dengan kepahaman tapak menepak menusuk batin diantara bait-bait kisah memaparkan idiologi santun bukan bengis terkepak demi kepakan meraih tanya dengan jalan yang tertuntun sudah.

Hamparan hijau padang dan taman-taman tiada menghujat tiada api yang menyala-nyala sirna tiada jejak mengukur garis-garis terbujur diantara sengatan terlontar tajam bersandar sadar tetes demi menetes keringat luka tergulung perban penghayatan bersemedi rukun batu-batu itu rapuh tiada tulang.

Tepian tak terwujud Part IV
Baku bila berkata meninggalkan setumpuk sesal meliputi kepedihan hamparan demi hamparan memompa kehausan, dahaga sulit mengungkap membunngkam ditengah-tengah padang pasir tuk mendewasakan tajuk rencana dalam penghayatan bersimba gudah tanpa wujud.

Piyawai surga bukanlah canda melainkan taman-taman penghiasan dalam ketaatan memperoleh singgasana akhir diantara tempaian-tepaian itu, sang pengrajin tekun dengan palu-palunya berlahan semampai seonggak keputusan yang memutar detik tanpa harus mengorbankan rangkaian yang telah ia buat.

Indah bukan tuntutan langkah-langkah tepian tak terwujud harum dengan pengaruhnya, terai berbaris dengan lekuk-lekuk ukiran sulam hingga terburai kelantai menyikapin udara yang menghebus-hembuskan tirai itu ketika hembusan itu berhenti susunan tirai dengan sulamnya diam terpaku terbujur kaku menunggu sang angin kembali menghembus.

3 Comments »

  1. Wawan Said:

    Tajuk sang pendayu cerita bersyair sangat menyedihkan baru kali ini q baca syair sepanjang ini seperti buku sang legendari masa lalu Kahlil Kibran

  2. IKA Said:

    wah best n menyentuh buanget syair nya btw bleh ga salah 1 aku ambil wat d pajang d website. thanks b’4 iah.

  3. boleh silahkan, terima kasi atas kunjungannya


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: