KATA DEMI KATA “Edisi II HAYALAN IMAJI “Sajak Bercerita”

Ku bentang kata sebagai lukisan redup hati berpalung mimpi-mimpi yang harus kuabaikan ia adalah Silamku, Benak tak mesti mengingat akan ada dan ketiadaan nya yang selalu menghantui jalan pikir ku tuk meraih kisah baru dalam kehidupan ku, Apakah aku salah melupakannya jika kabar ku terabaikan bagai dedaun kering jatuh melabai dari tangkai tertiup angin dan hilang tertelan bumi. Aku tak perna paham dan kini harus memahami dengan tulus hati tuk melupakan kenang mengenang dalam jiwa terhampar dunia baru dalam peraduan.

Hening senja ini menghantarkan ku pada malam disaat pijarku menatap langit hitam terangkai makna pada bintang dan bulan yang senantiasa melabuhkan hati ku pada cahaya nya, Wahai bintang pijar dihati ku sambut keremajaan relung-relung hiska ku hantarkan untuk mu. Jawab..! “Kata ku pada mu” , jika benar “raihlah benang yang telah ku rajut ini”, jika tidak ” Lupakan raut gemuruh didadaku yang harus pergi tinggalkan ketidak kuasaan ini”. Walau aku tak perna paham apa yang tertuang dalam hatimu sehingga membuat ku tersenyum dalam cengkramah disepertiga malam tersambut patabir subuh menghayutkan ku bersikap tawadu pada jalan-jalan Mu terhantar hiska kepadanya tak melebihin sembah sujud ku pada Mu.

Patakbir usai dalam ketafakuran ku dan bermunajat atas petunjuk- petunjuk hening ku, sambut fajar membentang haru akan anugerah sambut mentari dan sejuk embun pagi di pematang tempat ku menuai hiska dalam jawaban.

*
Pastikan pada yakin mu
Pastikan pada tali yang coba kuraih
Kan ku sambut altar megah mengarugi hati ini
Bisikan pada pesan maya jika embun sejuk itu adalah milik mu dan milik ku
*
*
Naluri ku ber kata ia
Jangan kau ragu dalam diam mu
Sapa batin ku dan batin mu
Agar kelegahan kemarau panjang ini terhenti
*
*
Jika kau paham maksud ku
Jangan simpan keraguan-raguan itu
Pasti ku raih dengan senyum dari penghujung ini
Lihat ilalang itu kan menjadi saksi bisu kau dan diri ku
*

Hijau padi pada pematang dan kubuk tua yang ku miliki hanya ilusi pada imaji dalam benak mimpiku, “harta yang ku miliki adalah jasad ku, permata paling indah adalah hati ku, pembasuh perih mu adalah sapu tangan kasih ku, dan kendaraan hidup ku adalah dirimu hingga kau menghantarkan ku pada bahtera yang kita miliki”. Segenap tabir ungkap itu bertuju pada keraguan-raguan yang kau miliki selama ini, Jawab wahai pijar bintang dikala senja berakhir “Diam kah dirimu atau jika tidak jawab dengan pesan maya mu”. sambutku dengan senyum penuh penasaran dalam hati.

“kisah ini masih bersambung jika topeng maut mu dan maut ku belum terjabarkan”

Banda Aceh, 24 Februari 2010
Rusdi Hutagalung (Si Sajak dungu)

2 Comments »

  1. muh sungkar Said:

    waaaww kereeenn kereennn syairnya,,,,kunjunganpertama../slam kenal…jngan lupa mampir yaaa mass………….

  2. salam kenal juga…Insya Allah aku mampir


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: