Curhat Ku Untuk Malam “Sajak bercerita nyata ku”

Malam dawai mengais kisah ku Kisah seribu tanya setiap malam

Intrik cerita berawal pada makna hiska yang kurun ku tinggal kan demi menyepi ku dan nanti ku, sajak dan lirik senandung diri menghias makna menuju kisah silam ku. Aku pernah berkata mungkin sekilas namun tak pernah terperhatikan oleh sahabat maya ku hingga kini belum ada yang dapat menjabarkan nya. Bualan ku seolahtak nyata namun pada dasarnya nyata, itu semua hanya untuk menghayutkan rasa silam ku yang telah lama ku kubur dalam kolom kolam hati ku.

Malam ini malam membayang bagi ku dan bagi dirinya, torehan yang mengores terus saja tak dapat luput pada silam ku. Hingga aku membuang alusinasi ku dalam coretan hening curhat ku untuk malam. Logisnya kisah ini kepersembahkan buat junjungan tali sahabat ku untuk para sahabat ku di maya ini.

Kisah nyata ku untuk mu
“INDAHNYA ALTAR TERJALIN NAMUN GERSANG DIPENGHUJUNG”

Waktu telah cukup letih ku hitung hingga kini mulai tampak cahaya secuil di mata mata hati ku yang meragu. Enam tahun sudah kisah itu terjalin namun setahun sudah pupus dihadang bahtera ke egoan ku dan dirinya. Secuil tampak nyata, Apakah itu nyata !…Semoga saja ia dalam bisik ku. Nuansa bening sejuk diantara helai bunga-bunga tandus silam mekar dan mewangi.

Peraduan itu berawal di sebuah Rental Sahabat tempat ku mangkir dari dunia kerja dan aktifitas ku, Medan itulah kota peraduan dan kota kelahirna ku. Tanpa sadar awalan indah mengisahkan roman ku yang sekian lama tak pernah lama akan sebuah peraduan. Banyak para gadis di kota itu yang termakan bujuk rayu ku namun tak perna mengena dihati ini, semua berakhir tanpa ada pertengkaran bahkan ada sampai sekarang menjadi adik angkat ku.

Makhfira nama nya seorang gadis seberang dari tanah rencong tepatnya disebuah pulau yang terasing dari ibu kota nya”Raja di tengah laut yaitu Pulau Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam“. Beliau ke Medan untuk menimbah ilmu sebagai siswa berprestasi kiriman dari pulaunya. Mungkin sahabat maya tau tentang program Pemerintah Merah Putih kita, “P4TK” orang menyebutnya sebuah program pendidikan untuk dilatih sebagai guru-guru teknik di SMK, peserta nya dari seluruh penjuru Merah Putih.

Aku singkat saja kisah ini, Peraduan roman ku dengan nya di Rental tempat sahabat ku. Ketika itu aku lagi asyik dengan game kesukaan ku. Tiba – tiba ia datang menghampirin sahabat ku, tampa sadar ku menguping pembicaraan meraka. Ternyata hanya sebuah perbincangan perkuliahan, dalam pikir hati membisik “Manis juga anak ini, aku pikir pacar sahabat ku ternyata hanya teman kuliahnya, ku tanya pada sahabat ku“.

Keesokan harinya pertautan hati mulai membius hatinya dengan bincang canda ku hadirkan untuknya, awalan indah ku menjerumuskan dirinya kedalam roman altar cinta ku yang membasi sekian minggu, Jahat bukan pungkas ku dalam hati (padahal aku masih lagi jalan dengan gadis cantik bernama Ayu tapi aku tak perna tau dimana rimbanya sekarang). Ku tebar bunga khas keabadian dari lereng gunung Sinabung biasa ku daki dengan rona tebar pesona ku dialam penghijau sang cagar alam. Dia tersipu malu bak siputri malu bila disentuh dengan kalbu kata ku.

Setahun telah ku tapaki kisah kasih dalam naungan roman-roman altar kemegahan bersama nya, dengan rasa berpisah saat dia harus kembali keistana megah si raja ditengah laut. Suasana haru itu meneteskan tangis pisah membasah di binar-binar matanya, aku hanya bisa tegar dalam nanti begitu juga dirinya.

Hati ku adalah ruang tunggu mu
Saat Pijakan menyentu kelembutan
Hati mu adalah penantian ku
Disaat kejauhan memisahkan kita

Surga itu milik mu
Saat semua kembali seperti dulu
Pengorbanan ini untuk mu
Saat ku perjuangkan cinta penuh kasih

Mimpi ini adalah mimpi mu
Saat kau terdampar mengais mimpi

Tunggu aku…!
Usah kau ragukan hati ini
Hari itu akan datang dengan gemerlapan kosmik
Winka bertabur cinta penuh altar yang menggema

Sajak diatas merupakan gambaran mimpi-mimpi silam ku bersama dirinya, sajak ku sajak hati bukan sajak buku atau sejenisnya, semua kata yang tercipta hanya untuk dirinya. Biarlah kasih ini dianggap sebagai kebodohan, namun afsun hati berkata lain “Itulah pengorbanan dan perjuangan demi merangkai hiska bersamanya“.

Kisah ku lanjutkan dengan gores penantian selama satu tahun penuh dalam kontek teknologi yang mendenging ditelinga. kasih ku terasa hambar penuh gejolak hempasan-hempasan ketidak percayaan dalam diri aku dan dirinya.

Malam seribu membisu saat ku duduk terpaku
Sayatan kecil yg meradang di hati ku
Sebuah kisah dikehidupan ku
Penuh hiska yg membiru kelam
Meraut setitik luka menusuk buaian2 yang tak sanggup aku torehkan di hati sang penyakit hati.

Aku sadar akan penjiwaan ku yg sedikit menyebalkan dimata mu
Namun itu semua ku rangkai sebagai bingkisan maniz untuk mu
Tapi apalah daya smua itu terabaikan begitu saja
Takkan perna aku sesali atas tingkah nurani buruk mu dan buruk ku

Api cemburu tlah membakar hati kami, pertengkaran terus saja mengoceh dalam teknologi dering itu, hiska yang tertanam tampak layu dalam kelam keributan para angin puting beliung. Congkak pikir menyayat dangkal pikir kami. Letih sudah wahai bidadari ku usaikan belenggu nurani yang mencabik-cabik lajur altar wewangi terbangun ini. Hinga sebuah sajak singkat tercipta dalam hinggar bingar keributan kecil itu.

Aku tak pernah mengerti akan diam mu
Aku tak pernah mengerti akan dunia mu

Aku terpaku
Duduk termenung
Berkata tak dapat ku kata

Lisan tanya menyelimutin nuansa bingung ku
Aneh, Jika ini harus ku terjemahkan dengan dangkal penglihatan ku

Setahun berlalu begitu saja bunga-bunga itu kembali akrab dalam peraduannya, penuh canda, tersenyum dan tertawa bahagia. Kini giliran ku harus meninggalkan nya ditahun ketiga.

Aku : “Dek, Abang harus berangkat ke Banda Aceh berhubung pekerjaan ini dimutasi kesana”.

(Diam dan bingung tampak diparas wajah yang lugu itu)
Dia : “Yha gimana lagi (dengan nada cuek tp meragu) yang penting kita saling memagang janji yang telah kita utarakan bersama”.

Aku : “Makasi atas izin nya, kita saling mendo’akan semoga tak terjadi apa-apa selama kita berpisah”.

Dia : “yha sudahlah bang, mungkin udah jalannya seperti itu, mau dibilang apa lagi. dek cuman minta satu harapan terakhir dari bg jangan pernah menoleh yang lain (dengan nada bercucuran air mata)”.

Ku basuh dengan sapu tangan pemerian nya air mata itu dengan rasa haru mendalam diantara kolom kolam hati ini. Peresapan ku kepada suratan takdir yang telah digores harus pasrah dengan semua yang telah terjadi.

Empat tahun telah berlalu dalam kisah hiska bersama dengan nya, suara ricuh kedua belah pihak mulai menjuat dalam hubungan kami berdua. Dia menelepon ku untuk menanyakan hubungan yang telah terjalin ini.

Dia : “Assalammualaikum”
Aku : “Waalaikum salam”

Sapa awal dengan menanyakan kabar ku dengan penuh kerinduan, perbincangan itu berujung pada keseriusan untuk mengajak ku bertunangan dengannya, tapi apalah arti itu semua itu keluarga ku tak pernah mengajarkan aku tentang pertunangan. Sehinga aku menolaknya dengan sindiran halus pungkas ku untuknya. Aku bingung seribu mengais tanya dalam hati ini.


Aku bingung….aku bingung
Bingung dengan panggilan perasaan ini
Menghantui di setiap cela2 Jendela tabir

Merasa terdekam diam dalam benak
Lorong impati merekah membakar
Diantara desir kebingungan melanda
Aku bertanya dan berkata pada diriku
Sambil membayangkan peranan apa itu

Aku bingung….aku bingung
Bingung tiada daya dan upaya
Ku coba menyatu namum semakin jauh
Ku coba menjauh tapi mendekat

Aneh jenuh membosankan
Akankah impati merekah kembali
Tiada lambayan diantara cela2 yang mengetuk
Kembali dan atau hilang tuk selamanya

Kisah mewangi itu harus tandus dan gersang dalam pertikaian besar bersamanya, setahun telah ku tunggu hingga sekarang kabar itu datang lagi penuh kerinduan.  “Malam ini tangis bagi ku, Saat dering kabar masuk ke hp ku, Rindu penantian ini membeku dan membisu, Akankah dia beruba seperti yg ku kenal, Tanya ku dalam benak penuh tangis menangis Wahai, makhfirah hati dalam nanti, Nama mu menggambarkan hati mu, Kan kunanti cengkramah esok, Membagi hati dlm nanti kita berdua”.


(Kisah ini hanya sepenggal rangkuman, tak dapat ku jabarkan semua)
Banda Aceh, 19 Februari 2010 (3.00 dini hari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: