Jiwa kosong membayang jiwa bercahaya
Terlantun makna kosong dan berisi
Itulah semangat jiwa-jiwa yang silam
Terkesan kusam namun satu arah
Coba perhatikan seksama ?
Jiwa itu sedang berdiri tegak digurun kusam hati
Namun berusaha meraih nur kegelapan hati
Ironis bukan !..tapi itu nyata saudara
Coba ilhami dalam hening mu saudara
Tampak jelas bukan !
Kosong namun berisi
Itulah jiwa kita sebenarnya
Namun setan membutakan mata batin kita
Hingga kita lupan akan yang Satu dialah –Nya
Coba pandangin dengan hening mu
Coba ukir makna dibalik gambar ini
Nuansa jiwa terperangkap dalam sekam abstrak
Perhatikan sekali lagi wahai saudara ku
Warna-warna torehan afsun dalam sekam itu
Diam halus ku maknai keabstarakan itu
Tangan menggapai jiwa tercabik bingung
Ironisnya hingga melontarkan awan-awan megah
Mencoba melukis da terlukis gapaian jiwa itu
Dua jiwa telah dimaknai
Masih berjibun jiwa lain
Coba maknai jiwa-jiwa ini
Mari kita kaji dalam hening kita
Segelincir orang banyak cinta senja
Dimana sang raja cahaya menutup wujudnya
Namun di lintang lain sebenarnya tidak
Senja oh senja
Begitukah ungkap mu wahai saudara ku !
Coba lihat tepian pantai itu
Terselimutin kabut malam namun ada dian
Dian adalah penerang
Namun apakah dian itu terang
Jawab ku tentang dian
Dian adalah pancaran ro jiwa jiwa
Dimana kita merenung diantara nur itu
Sajadah tergantung rapi di altar kehidupan mu
Namun apakah itu baik untuk mu
Tidak…!, “Wahai saudara ku”
Jangan gantung dia wahai saudara ku
Jika kau gantung maka kecintaan mu pada –Nya tergantug pula
Menghening diatas akar-akar beringas
Terteduh diantara pepohonan nan rindang
Secuil benalu tertatap oleh si pijar
Diantar kilau bening air merawa batin
Hening kesahajaan malam membentang
Dikala fajar tersulam penantian
Para ikan dan serangga itu menabur benih kecintaannya
Berpaku teguh diantara malam penuh bentangan hening
Hening terhampar sujud khusuk dan tangan terangkat
Berdo’a tiada henti menafsirkan seribu tanya
Keluhkah hati
Risaukah hati ini
Hinga tersikap kesejukan hati di dada malam hening
Butiran pasir dipadang gersang
Membentuk jiwa penuh bentangan hiska
Tergores bingar hingga nafas terengah melawan kabut
Saat tangan dan mata menyatu dalam hakiki
Tiada tafsir jiwa paling indah
Tiada tafsir jiwa paling berharga
Hanya pada nya kita meluruskan bekalan
Hingaa titian itu menghantarkan kita ke Surga dan Neraka
Ironisnya tak tau mengapa harus mengapa hendak dikata
Nasi telah membubur dalam kelam duniawi kita
Coba pahami dan renungi munajat kepiawayan –Nya
Indah bukan jalan itu
Jika kita resapin dengan relung hati sebuah kekhusukan
Maka ujian itu terasa indah dan tak samar
Lalu biar lah berlalu
Ku buka lembaran indah menuju tarekat –Nya
Satu adalah Satu
Beribu tetaplah Satu
Hingga santun ku mencoba ikhlas akan ujian
Segelincir manusia telah terpojok oleh durja dia
Indah tawanya membuat kita lupa akan Satu kewujudan
Mata batin kita telah tersikap keangkuhannya
Hingga kita sombong akan indah dunia singgah ini
Munafikkah kah aku ? “Wahai saudaraku disana”
Kesombongan ku mengatarkan putih ku kepada Nya
Bersimpuh hanyut dalam memanjat terperanjat hening malam ini
Secarih ku toreh garis mungil penuh makna
Diatas pena digital menguntai makna dalam diri kita
Jiwa oh jiwa…lepas semua kusam kumal hati ini
Saat ku menghadap yang Dihadap
Kuasa -Nya bukan kuasa mu sombong
Apalah arti pijar barokah diberikan oleh -Nya
Jika kau lupa aka nada -Nya
Terkadang aku sendiri saja luput dari bodoh ku
Lihat makhluk saksi bisu dihari akhir
Meraka akan berbicara akan jiwa-jiwa kita yang kotor
“Makhluk hina dalam secarih digital”
Banda Aceh, 21 Februari 2009









