Archive for February, 2009

Pelipih Mimpi Tegak Lurus

Malam berbinar meneteskan seuntai embun penyejuk dalam raut pikir
Terbaring kaku bergetar menyeluruh mengisahkan imagi terpapar sembab
Berkedip sang dewa malam tuk hampiri tragedi penjiwaan semu
Tongkat kebisingan seraut membayang kebelakang dalam pengharapan

Wacana kecil mirip dengan sajak berliku dalam binarnya
Terhampar dalam penjabaran langkah berpijak lesu dan gelisah
Topeng duka berubah menjadi gemuruh sorak gempita
Membayang dalam mimpi-mimpi kelabu tak berujung

Pagi itu tersetak terengah kebingungan melihta gambaran itu
Apalah arti bunga tidur itu membisik dalam hati sambil termenung
Buaian beralur pemisahan ikatan tak berdaya tanpa alasan
Hati penuh keyakinan langkah maju tak mungkin mudur demi alasan jenaka

Perjuangan sebuah kisah bersuarakan ketegangan yang unik
Melambaikan hiruknya kiasaan pengisyaratan hati mendekap
Lingkaran awal putih menjadi berkabut pekat tanpa sela
Hakekat tegak lurus mengibarkan dan menebarkan putih suci

Hirarki Kebohongan

Kala mimpi tercampur dengan angan sebuah perasaan Wujud sebuah kejujuran bukanlah arti sebuah sikap Menepi mengiringi sebuah lantunan penjabaran dalam hakikat Kisah menjurus dalam awang tergetir dalam pikir menusuk dalam batin semua menjadi ikatan nurani yang berangan tentang pendirian dalam sikap kesempurnaan dalam hidup. Juba terbingkis rapi diantara kebusukan dan kemunafikan terhalang tirai perisai melindungi dan memaparkan kebaikan semua kebohongan musnah tertutupi prilaku hirarki yang selama ini belum terungkap.

Bohong sebuah adab meliputi dahan hijau membusuk, uraian itu membumbung arogan kehidupan terselubung hitam dan putih dantara hati dalam benak mencoba untuk mengalihkan apa desir kata yang terungkap. Wajah itu indah, baju itu bagus, mobil itu mewah, mulut bisa berkata tapi nurani hati terkdang berbohong.

Teluk diujung purbakala perisai jiwa terpaut duka mulut bungkam hati ingin mengungkap isyarat pelipih urungkan sikap, telaga indah menyongong prahara pendikarian diri kini berderai dalam lorong kegelapan, wahai hati kutuklah diri dengan tertimbung sebuah kebohongan menata langit pagi menyingsi raja cahaya melambaikan waktu.

Bayang kekotoran harus diakhiri tuk gapai pikir yang mendalam mengintari jeruji dosa tiada pengampunan yang terangkul dalam hati bisik setan harus pergi apalah arti sebuah hidup tak diresapi hingga datang sebuah kegagalan. menyepi dalam keramaian bersedih dalam ketertawaan rapuh dalam hening desiran gelombang datang.

Cita kini mati terkubur dalam ketakutan usaikan masa pelampiasan diakhiri dengan penyeslan beribu bisik beribu tangis beribu maaf beribu ungkap harus diungakap.

Renungan senja

Senja menghampiri sinar nya sang surya
Dihiasi embun yang melumbutkan raga ini
Suasa hati saat terbangun tersenyum indah
Memandang memahami arti sebuah kehidupan

Mimpi bukan lah mimpi
Tapi sebuah kenyataan melintas diantara doa
Panjat bermunajat diantar kekuasaan Nya
Cinta dan keindahan sebuah keinginan

Hati tlah berlubang diantara senja itu
Hijau keinginan hasrat yang mendalam
Halayak pengampunan meresapi

Senyum ini, sedih ini, sujud ini
Terangkul dalam ikatan kemunajatan hati
Cahaya senja itu telah menggugah hati ini
Taubatan menderu dan membisik

Hidayah akan ketafakuran tlah membimbing
Ya Allah Ya Robbi renungan senja ini
Hati membuka pintu demi pintu
Keagungan Mu membawa kedamaian dihati

Goresan Rusdi…

« Previous entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.