Renungan senja

Senja menghampiri sinar nya sang surya
Dihiasi embun yang melumbutkan raga ini
Suasa hati saat terbangun tersenyum indah
Memandang memahami arti sebuah kehidupan

Mimpi bukan lah mimpi
Tapi sebuah kenyataan melintas diantara doa
Panjat bermunajat diantar kekuasaan Nya
Cinta dan keindahan sebuah keinginan

Hati tlah berlubang diantara senja itu
Hijau keinginan hasrat yang mendalam
Halayak pengampunan meresapi

Senyum ini, sedih ini, sujud ini
Terangkul dalam ikatan kemunajatan hati
Cahaya senja itu telah menggugah hati ini
Taubatan menderu dan membisik

Hidayah akan ketafakuran tlah membimbing
Ya Allah Ya Robbi renungan senja ini
Hati membuka pintu demi pintu
Keagungan Mu membawa kedamaian dihati

Goresan Rusdi…

Syair Terkandung Dalam Rintihan Jiwa

ANGAN SEBUAH PERASAAN

Diantara bibir – bibir kehidupan tlah kau hempaskan taring jiwa ini untuk merasuk dan menjelma dalam kehidupan mu, jujur dalam hati kecil bersuarakan kidung dan afun jiwa dalam hiska yang tlah ku jalani bersama mu. Andai kau pernah tau apa yang terkandung dlm benak ku adalah sakral dalam batin ku tuk menuju impian mahligai bersama mu.
Getir yang dulu kurasakan kini tlah kembali bersemi diantara sungai – sungai mengalir deras diantara bebatuan yang menghalau perjalan air tapi itu semua harus ku tempuh dengan semangat goresan lirih hati dijwa dalam penompang hidup yang damai diantara kehidupan kelam yang tlah lalu harus sirna dan kembali meninkmati indahnya embun pagi bersamanya.

BY RUSDI RF

Harus Ku Berharap

Aku duduk dalam keterpakuan diantara kegetiran afun jiwa, bayang itu slalu menusuk setiap waktu setiap dan setiap detakan kerinduan, 3 unsur 1000 membayang dalam benak dan lirih hati dijiwa, mimpi terkadang indah tapi tak seperti dengan keyataan, rongga semu diantara nyayian senja. aku terkadang meronta dalam hiruk pikuk dunia berkabut tuk mencari arti terang dalam hati, wahai malaikat hati jemput diantara kesunyian aku letih walau harus memaparkan smua yang menghitam. bosan bukan kata untuk ku hanya keteguhan dan kesabaran kunci kedatangan. harap biarlah mengharap walau cacian itu terlontar untuk ku. kan ku hiasi kata-kata ini dengan isi pena yang teruntai dalam diary ku. dear diary sampai  bayangan kerinduan ini hingga ia mengerti tentang perjuangan ku. wahai pelangi diantara langit mendung hiasi kerinduan ini dengan pertemuan. awal dan akhir tercipta keindahan dalam lingkarang hiska yang abadi.

Thank’s for love me
From pengeran menyepi

KATA DEMI KATA “Edisi II HAYALAN IMAJI “Sajak Bercerita”

Ku bentang kata sebagai lukisan redup hati berpalung mimpi-mimpi yang harus kuabaikan ia adalah Silamku, Benak tak mesti mengingat akan ada dan ketiadaan nya yang selalu menghantui jalan pikir ku tuk meraih kisah baru dalam kehidupan ku, Apakah aku salah melupakannya jika kabar ku terabaikan bagai dedaun kering jatuh melabai dari tangkai tertiup angin dan hilang tertelan bumi. Aku tak perna paham dan kini harus memahami dengan tulus hati tuk melupakan kenang mengenang dalam jiwa terhampar dunia baru dalam peraduan.

Hening senja ini menghantarkan ku pada malam disaat pijarku menatap langit hitam terangkai makna pada bintang dan bulan yang senantiasa melabuhkan hati ku pada cahaya nya, Wahai bintang pijar dihati ku sambut keremajaan relung-relung hiska ku hantarkan untuk mu. Jawab..! “Kata ku pada mu” , jika benar “raihlah benang yang telah ku rajut ini”, jika tidak ” Lupakan raut gemuruh didadaku yang harus pergi tinggalkan ketidak kuasaan ini”. Walau aku tak perna paham apa yang tertuang dalam hatimu sehingga membuat ku tersenyum dalam cengkramah disepertiga malam tersambut patabir subuh menghayutkan ku bersikap tawadu pada jalan-jalan Mu terhantar hiska kepadanya tak melebihin sembah sujud ku pada Mu.

Patakbir usai dalam ketafakuran ku dan bermunajat atas petunjuk- petunjuk hening ku, sambut fajar membentang haru akan anugerah sambut mentari dan sejuk embun pagi di pematang tempat ku menuai hiska dalam jawaban.

*
Pastikan pada yakin mu
Pastikan pada tali yang coba kuraih
Kan ku sambut altar megah mengarugi hati ini
Bisikan pada pesan maya jika embun sejuk itu adalah milik mu dan milik ku
*
*
Naluri ku ber kata ia
Jangan kau ragu dalam diam mu
Sapa batin ku dan batin mu
Agar kelegahan kemarau panjang ini terhenti
*
*
Jika kau paham maksud ku
Jangan simpan keraguan-raguan itu
Pasti ku raih dengan senyum dari penghujung ini
Lihat ilalang itu kan menjadi saksi bisu kau dan diri ku
*

Hijau padi pada pematang dan kubuk tua yang ku miliki hanya ilusi pada imaji dalam benak mimpiku, “harta yang ku miliki adalah jasad ku, permata paling indah adalah hati ku, pembasuh perih mu adalah sapu tangan kasih ku, dan kendaraan hidup ku adalah dirimu hingga kau menghantarkan ku pada bahtera yang kita miliki”. Segenap tabir ungkap itu bertuju pada keraguan-raguan yang kau miliki selama ini, Jawab wahai pijar bintang dikala senja berakhir “Diam kah dirimu atau jika tidak jawab dengan pesan maya mu”. sambutku dengan senyum penuh penasaran dalam hati.

“kisah ini masih bersambung jika topeng maut mu dan maut ku belum terjabarkan”

Banda Aceh, 24 Februari 2010
Rusdi Hutagalung (Si Sajak dungu)

HAYALAN IMAJI “Sajak Bercerita Edisi I”

Jejak-jejak kasih mencoba melangkah kemuara tertanam dalam hati penuh impian, kisah, dan penyatuan diantara sibalik hati terpaut benih-benih menyebar kedalam kolom kolam dalam hati, Sejenak kaki ku berhenti sambil memandang taman taman langit yang bergambar renungan siang itu. Kurebahkan sejenak tubuh ini tuk hilangkan letih, penat, hingga kesukaran dalam titian yang sedang ku lalui bersama jiwa-jiwa yang menghantarkan ku kepada dirinya.

Saat pembaringan ku diantara lapisan-lapisan bebatuan berbongkah besar tersusun arsitektur kemegahan alam yang tlah di cipta kan -Nya. Sambil ku hayalkan naungan berpundi candi megah bernuansakan keafsunan penuh altar para bidadari-bidadari mimpi saat mata ini terlelap dengan tenangnya. Alam nyata berubah menjadi diwana berkidung kesejukan saat tidur itu menghantarkan ku menuju pintu-pintu hayalan ku dikala sadar. Dimensi waktu berputar seolah-olah melambat membuatku terasa nyaman menikmatinnya.

Lihat !
Air terjun itu tak perna ku lihat

Sungguh indah !
Bening dan kesejukan nya menghilangkan kepenatan ini

” Dalam mimpi mulai berhayal “
Seandainya saja nuansa alam penuh berkah ini ku nikmatin dengan seorang gadis yang benar-benar menyayangin ku, kan kurebahkan tubuh ini di pahanya sambil memandang senyum yang memancarkan aura kasih begitu dalam dan aku mulai mengungkapkan syair hati penuh gelora kecintaan ku pada nya.

Hati ku adalah ruang tunggu mu
Saat Pijakan menyentu kelembutan
Hati mu adalah penantian ku
Disaat kejauhan memisahkan kita

Surga itu milik mu
Saat semua kembali seperti dulu
Pengorbanan ini untuk mu
Saat ku perjuangkan cinta penuh kasih

Mimpi ini adalah mimpi mu
Saat kau terdampar mengais mimpi

Tunggu aku
Usah kau ragukan hati ini
Hari itu akan datang dengan gemerlapan kosmik
Winka bertabur cinta penuh altar yang menggema
“sumber : dicatatan sebelumnya”

Lagi asyik berhayal dalam mimpi tiba-tiba ku terbangun saat kicau burung sore itu berkidung merdu hingga aku terpaku dan melamun sambil berbisik.

“Takjub ku untuk mu wahai burung
Indah nian tarian berkidung senja
Terlantun makna sandi berisyarat
Semangat ku mulai tumbuh menggelegar

Jangan takut wahai burung penyemangat
Langkah ku takkan pernah terputus kelam
Ujian ini merupakan berkah bagi ku untuk nya
Saat tepian peradauan benar-benar menyatu”

Petualangan ku tak cukup sampai disini (Bersambung)

Kata Pada Malam

Cumbui kata pada malam hening
Sembari menatap nurani bening dihati nan lalu
Aku hanya bisa beralusinasi pada kata lewat imaji
Meneropong riwayat para illang menciplak peradapan

Bual ku rasa mual sosok hitam seolah putih
Aneh kian aneh budaya kata pada malam cumbui gemuruh getir
Benak tertancap pada dinding-dinding para pembual kata pada malam
Sedangkan aku hanya bisa tersenyum melihat riak menjadi raja dan ratu

Malam kian tampak menggergaji relung kata pada pesonanya
Mesin copy mulai membadai setiap tetesan kata pada malam

Indah sich…
Namun bual tetaplah bual

Mesin potong pagari naluri, memaksa dan dipaksa tiada guna
Cumbui saja kata pada malam hingga raga mu tampak menopeng dalam indah

Ahay…tawa ku tersikap lucu
Melihat lantunan suara mesin Copy menjajal kata pada malam
Seolah tak terdengar suara berisik mesin nya

Ahay…aduhai senyumku salut oleh berisik mesin mu
Hingga jenuh aku akan pandang tak bertuan kelam berdering lucu

Gledek…dek…dek…
Je..jes..je..jes..je..jes
Berisiknya mengusik lantunan mimpi ku dalam tidur

Woiiii…Hentikan saja mesin copy kata pada malam
Aku mau merebahkan tubuh letih ku,
Berilah ruang detik untukku terlelap dulu

Ahay…Bosan aku
Usik saja tetangga lain “kata ku pada malam”
Usah curi detik tidur ku dengan suara mesin copy kata pada malam mu

Hentikan…!
Perhatikan…!
Buset…!

Marah ku memunjak ke uluh gores tinta ku pada kata pada malam

Banda Aceh, 24 Februari 2010
Rusdi Hutagalung ( Si Sajak Dungu )

« Older entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.